SEMUA KARENA AKU SAYANG
KAMU
Pagi yang cerah ini, aku bangun, keluar kamar dan
langsung menghirup udara segar. Hari ini
adalah hari pertamaku masuk di kelas 9,bertemu dengan teman baru karena
disekolahku setiap kenaikkan kelas, siswanya diacak. Aku bergegas mandi dan
sarapan untuk berangkat sekolah
Aku berangkat sekolah menaiki sepeda dengan penuh
semangat. Yah, aku adalah Lia, siswi kelas 9 SMP Cahaya Kasih. Sesampai di
sekolah, aku langsung memarkirkan sepedaku di tempat biasa aku memarkirkannya.
Aku langsung memasuki ruang kelas untuk mencari tempat duduk. “Wah.. kok tempat
duduknya udah penuh semua yah, terus aku dimana?” gumamku dalam hati sambil clingak clinguk mencari tempat duduk.
“Li, duduk sama aku saja” tiba-tiba ada suara memanggilku. Setahunya aku, dia
itu bernama Bety, setelah aku duduk dan berkenalan, ternyata benar dia bernama
Bety.
Hari-hari pun berlalu. Walaupun aku satu tempat
duduk dengan Bety, tetapi kami tidak pernah main bersama apalagi cerita tentang
diri kita masing-masing. Itu karena Bety anaknya sangat pintar, udah
gitu pendiam banget. Yang selalu dia pikirkan adalah pelajaran terus. Maka dari
itu aku selalu jalan-jaln sendiri mencari teman yang pintar dalam pelajaran dan
juga pandai bergaul. Akhirnya, akupun menemukannya. Mereka adalah Azki, Caca,
Indri, Ranti dan Silvi.
Hari demi hari berlalu dan kami pun
semakin akrab, saling bercerita tentang diri kita masing-masing sampai Azki
bercerita tentang dirinya yang jatuh hati pada
Tri, cowo tertampan di kelas. Sebagai teman akrab Azki, aku dan
kawan-kawan berniat untuk menjomblangkan Azki dengan Tri. Tapi yang lebih bisa untuk menjomblangkan
adalah aku karena posisi tempat duduk aku di depannya Tri. Jadi, aku bisa
leluasa bertanya-tanya dengan Tri.
……………………..
“Li,
pr Bahasa Indonesianya udah?” Tanya Tri padaku yang baru masuk kelas.
“Udah,
kenapa?”
“Liat
boleh, aku mau nyocokkin jawaban aku barangkali ada yang salah”
“Hmmmm,
bilang aja mau nyontek”
“Hehehe
tau aja”
“Ya
iyalah tau, nih” aku menaruhnya di meja Tri.
“Makasih
yah, kamu baik deh” sambil memegang kepalaku.
“Iya”
“Oh
ya, Li, Azki kok tumben belum berangkat, biasanya cepet banget”
“Ciie
perhatian BGT, oh iya si Azki kan hari ini ikut olimpiade matematika”
“Wah
keren yah, udah cantik, pinter lagi”
“Naksir
yah?”
“Iya,hehehe
tapi iya sih, ada yang aku gak suka dari dia”
“Apa?”
“Kayaknya
anaknya centil gimana gitu, aku gak suka cewe yang kaya gitu”
“Kalo
suka ya harus nerima apa adanya donk. Barang kali aja pas dia udah jadian sama
kamu, dia jadi merubah kelakuannya itu”
“Iya
juga ya”
“Hahaha,,iya
donk”
“Tapi Li, mmmmm engga deh”
“Apa sih Tri, jangan bikin aku penasaran deh”
“Aku lagi naksir sama cewe”
“Ciieeee siapa tuh?”
“Nanti aku kasih tau ke kamu”
“Janji yah?”
“Iya cantik”
……………………
“Kalian
tau gak hari ini tuh aku seneng banget” Azki datang sambil senyum-senyum.
“Ciie
kayaknya ada yang echem echem nih”
“Iya,
tau gak si Tri tadi malam sms aku. Ahhhh aku seneng banget”
“Ciie…
udah ada sinyal tuh”
“Mudah-mudahan
si gitu, makasih ya temen-temen. Ini semua berkat kalian”
“Ok,
kalau kamu seneng, kita juga ikut seneng”
“Tapi…..”
“Apa
ki?”
“Setiap
kali sms,Tri selalu tanya tentang kamu Li.”
“Hah?
Aku? Masa sih?”
“Iya
tau, dia tanya kamu lagi deket sama siapa, dan dia selalu
memuji kamu. kayaknya dia bukan suka sama aku deh
tapi kamu”
“Jangan
gitu dulu Ki, dia mungkin Cuma basa-basi biar terus smsan sama kamu”
“Masa sih sampai segitunya sms temanya kamu terus”
“Iya lah Ki, namanya juga basa basi, masa iya mau
langsung ngungkapin, kan kenal deket dulu”
“ouw
gitu, iya kali”
………………………
“Li,
kita udah lama kenal tapi aku belum tau nomor hp kamu, boleh minta gak?”
“Boleh,
nih” aku menyerahkan selembar kertas berukuran kecil berisikan nomor hp aku
kepada Tri.
“Makasih
ya”
“Iya
sama-sama”
“Oh
iya, nanti malam kan malam minggu, pergi yuk, kamu ga ada acara kan?”
“Ga
ada soalnya pacar aku juga lagi pelantikan “
“Hah?Pacar?”
“Ya,
emank kenapa? Kok kaget?”
“Kamu
udah punya pacar?”
“Udah,
kenapa sih kamu?”
“Udah
lama pacarannya?”
“Belum
sih..”
“Emank
pacar kamu sekolah dimana?”
“Sma
kasih”
“Ouw”
“Kenapa?
Kok muka kamu jadi pucat, kamu sakit ya?”
“Ga
papa, lagi gak enak badan aja”
“Oh
gitu, keUKS aja yuh?”
”Ga
usah, aku ga papa kok”
“Yang
bener?”
“Beneran
deh”
“Oh
ya udah”
Semenjak itu, Tri jadi jauh sama
aku, tetapi, dia makin akrab dengan Silvi. Dan yang lebih anehnya lagi adalah
keakraban mereka itu bukan seperti teman tapi lebih tepat mereka itu seperti
pacaran. Bahkah aku pernah memergoki mereka berpegangan tangan. Aku sengaja
memilih untuk diam karena aku takut kalau Azki tau, dia akan nangis karena
sakit hati. Tapi, ternyata diamku sia-sia karena Azki pun tau yang sebenarnya
dan benar apa yang sudah aku duga bahwa dia akan nangis karena merasakan sakit.
Aku bingung sama sikap mereka berdua, pertama dari Silvi. Sebenarnya tujuan dia
deket sama Tri itu apa? Apa mereka jadian? Kalau toh mereka jadian kenapa juga
Silvi gak ngomong sama aku dan kawan-kawan. Terus juga apa maksud dia sekongkol
dengan aku dan yang lain untuk mencomblangkan Azki dan Tri kalu kenyataannya
dia juga suka sama Tri. Kedua Tri, kenapa dia udah tau kalu Azki itu suka sama
dia malah dia kaya gitu. Padahal Tri sempet kuanggap ngasih sinyal buat Azki
tetapi kenapa dia jadi kaya gini.
“Azki,
udah jangan nangis terus” Caca mencoba menenangkan Azki yang sedari tadi
nangis.
“Aku
bingung sama Silvi, aku sedih. Kenapa dia tega gitu sama aku. Aku salah apa?
Terus kenapa juga dia ga cerita sama aku”
Dalam
keadaan seperti itu, Silvi datang dengan wajah ceria tanpa merasa salah
sedikitpun.
“Halo
temen-temen, eh Azki, kok nangis? Kenapa? Ada masalah ya?
“Ada,
masalah banget?” Caca menjawab dengan ketus
“Biasa
aja donk Ca, aku kan cuma Tanya aja”
“Setiap
hari aku mungkin bisa biasa tapi kali ini aku lagi gak biasa”
“Kok
jadi kaya gitu sih? Kok muka kalian jadi sinis gitu sama aku?”
“Jelas
kita sinis sama kamu. Itu karena kamu penghianat” Azki berhenti menangis dan
langsung berbicara.
“Penghianat
gimana maksudnya? Aku gak ngerti”
“Masih
pura-pura bego ya kamu? Kamu kan tau kalo aku suka sama Tri tapi kenapa kamu
akrab sama dia gak lazim banget. Akrab kaya orang pacaran. Kalian pacaran kan?”
“Gak,
sumpah deh aku gak bohong. Aku sama Tri cuma temen biasa.”
“Halah
penipu, dasar penghianat”
“Azki,
aku sama Tri deket karena….” Belum selesai Silvi bicara, Azki langsung memotong
pembicaraan Silvi.
“Halah
udah, sekali penghianat tetep penghianat”
“Azki…”
“Udah lah aku ga mau
punya temen kaya kamu”
Sejak itu, Azki dan Silvi jadi
bermusuhan. Aku gak suka liat kondisi kaya gini, walaupun sekarang aku udah
jauh sama Tri, tapi aku memberanikan diri buat ngomong sama Tri biar masalahnya
cepet selesai.
“Tri,
pulang sekolah ada kegiatan gak?”
“Sebenernya
sih aku mau ada tanding futsal tapi sore kok. Emank kenapa Li?”
“Ada
yang mau aku omongin, penting”
“Ok,
bisa”
Sepulang
sekolah
“Li,
katanya mau ngomong”
“Ya,
aku mau tanya , kamu jadian ya sama Silvi?”
“Udah
aku tebak, pasti kamu mau nanyain hal ini sama aku.”
“Loh
kok gitu”
“Iya,
aku sengaja kaya gini soalnya, jujur aja aku frustasi karena cinta aku
bertepuk sebelah tangan”
“Ok,
aku tau perasaan orang frustasi kaya apa tapi gak harus teman-teman aku donk
Tri, mereka gak salah. Karena kamu, mereka itu jadi berantem kaya gini”
“Aku
kaya gini juga karena gengnya kamu”
“Maksud
kamu?”
Tri
memegang kepalaku dengan lembut. “Li, aku kaya gini karena aku sayang sama
kamu. Aku frustasi denger kamu udah punya cowo”
“Tapi
Tri…”
“Iya
aku ngerti kamu gak bakal nerima aku tapi seengganya kamu tau perasaan aku yang
sebenarnya dan maaf karena aku, teman-teman kamu jadi berantem”
“Kalau
kamu memang bener-bener sayang sama aku, tolong bilang sama Azki bahwa kamu
nglakuin ini semua karena kamu ingin menguji seberapa besar cinta dia ke kamu.”
“Terus
maksud kamu, aku di suruh pura-pura sayang sama Azki dan macarin dia gitu?”
“iya”
“kamu
tega banget ya Li, aku gak nyangka”
“Bukan
gitu Tri, dengerin dulu. Aku nyuruh kamu kaya gini biar mereka ga rebut lagi.
Pliss “
“Ok,
aku akan turutin permintaan kamu”
“Beneran?
Makasih ya”
“ya”
……….
“Temen-temen
semua, aku minta maaf atas kesalahanku sama kalian. Azki, Silvi, aku minta maaf
udah buat kalian berantem. Azki, Jujur aku nglakuin ini karena aku pengin tau
seberapa besar rasa cinta kamu sama aku. Aku cinta sama kamu ki. Aku pengin
ngungkapin tapi ga berani, mungkin ini saat yang tepat untuk aku mengungkapkan
yang sebenarnya. Ki, kamu mau ga jadi pacar aku?”
Kegaduhan
di kelas terjadi Karena teman-teman berteriak agar Azki mau menerima cintanya
Tri..
“Iya
Tri, aku juga cinta sama kamu. Aku mau jadi pacar kamu.”
Semua
teman bertepuk tangan dengan ramainya dan kami saling berpelukkan kaya
teletubis. Dalam keramaian seperti ini, Tri bebisik kepadaku.
“Semua
karena aku sayang kamu Li”
The
end…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar