Senin, 04 Januari 2016

Cerpen Cinta remaja

SEMUA KARENA AKU SAYANG KAMU

Pagi yang cerah ini, aku bangun, keluar kamar dan langsung menghirup udara segar. Hari  ini adalah hari pertamaku masuk di kelas 9,bertemu dengan teman baru karena disekolahku setiap kenaikkan kelas, siswanya diacak. Aku bergegas mandi dan sarapan untuk berangkat sekolah  
Aku berangkat sekolah menaiki sepeda dengan penuh semangat. Yah, aku adalah Lia, siswi kelas 9 SMP Cahaya Kasih. Sesampai di sekolah, aku langsung memarkirkan sepedaku di tempat biasa aku memarkirkannya. Aku langsung memasuki ruang kelas untuk mencari tempat duduk. “Wah.. kok tempat duduknya udah penuh semua yah, terus aku dimana?” gumamku dalam hati  sambil clingak clinguk mencari tempat duduk. “Li, duduk sama aku saja” tiba-tiba ada suara memanggilku. Setahunya aku, dia itu bernama Bety, setelah aku duduk dan berkenalan, ternyata benar dia bernama Bety.
Hari-hari pun berlalu. Walaupun aku satu tempat duduk dengan Bety, tetapi kami tidak pernah main bersama apalagi cerita tentang diri kita masing-masing. Itu karena Bety anaknya sangat pintar, udah gitu pendiam banget. Yang selalu dia pikirkan adalah pelajaran terus. Maka dari itu aku selalu jalan-jaln sendiri mencari teman yang pintar dalam pelajaran dan juga pandai bergaul. Akhirnya, akupun menemukannya. Mereka adalah Azki, Caca, Indri, Ranti dan Silvi.
            Hari demi hari berlalu dan kami pun semakin akrab, saling bercerita tentang diri kita masing-masing sampai Azki bercerita tentang dirinya yang jatuh hati pada  Tri, cowo tertampan di kelas. Sebagai teman akrab Azki, aku dan kawan-kawan berniat untuk menjomblangkan Azki dengan Tri. Tapi yang lebih bisa untuk menjomblangkan adalah aku karena posisi tempat duduk aku di depannya Tri. Jadi, aku bisa leluasa bertanya-tanya dengan Tri.
……………………..
“Li, pr Bahasa Indonesianya udah?” Tanya Tri padaku yang baru masuk kelas.
“Udah, kenapa?”
“Liat boleh, aku mau nyocokkin jawaban aku barangkali ada yang salah”
“Hmmmm, bilang aja mau nyontek”
“Hehehe tau aja”
“Ya iyalah tau, nih” aku menaruhnya di meja Tri.
“Makasih yah, kamu baik deh” sambil memegang kepalaku.
“Iya”
“Oh ya, Li, Azki kok tumben belum berangkat, biasanya cepet banget”
“Ciie perhatian BGT, oh iya si Azki kan hari ini ikut olimpiade matematika”
“Wah keren yah, udah cantik, pinter lagi”
“Naksir yah?”
“Iya,hehehe tapi iya sih, ada yang aku gak suka dari dia”
“Apa?”
“Kayaknya anaknya centil gimana gitu, aku gak suka cewe yang kaya gitu”
“Kalo suka ya harus nerima apa adanya donk. Barang kali aja pas dia udah jadian sama kamu, dia jadi merubah kelakuannya itu”
“Iya juga ya”
“Hahaha,,iya donk”
“Tapi Li, mmmmm engga deh”
“Apa sih Tri, jangan bikin aku penasaran deh”
“Aku lagi naksir sama cewe”
“Ciieeee siapa tuh?”
“Nanti aku kasih tau ke kamu”
“Janji yah?”
“Iya cantik”
……………………
“Kalian tau gak hari ini tuh aku seneng banget” Azki datang sambil senyum-senyum.
“Ciie kayaknya ada yang echem echem nih”
“Iya, tau gak si Tri tadi malam sms aku. Ahhhh aku seneng banget”
“Ciie… udah ada sinyal tuh”
“Mudah-mudahan si gitu, makasih ya temen-temen. Ini semua berkat kalian”
“Ok, kalau kamu seneng, kita juga ikut seneng”
“Tapi…..”
“Apa ki?”
“Setiap kali sms,Tri selalu tanya tentang kamu Li.”
“Hah? Aku? Masa sih?”
“Iya tau, dia tanya kamu lagi deket sama siapa, dan dia selalu memuji kamu. kayaknya dia bukan suka sama aku deh tapi kamu”
“Jangan gitu dulu Ki, dia mungkin Cuma basa-basi biar terus smsan sama kamu”
“Masa sih sampai segitunya sms temanya kamu terus”
“Iya lah Ki, namanya juga basa basi, masa iya mau langsung ngungkapin, kan kenal deket dulu”
“ouw gitu, iya kali”
………………………
“Li, kita udah lama kenal tapi aku belum tau nomor hp kamu, boleh minta gak?”
“Boleh, nih” aku menyerahkan selembar kertas berukuran kecil berisikan nomor hp aku kepada Tri.
“Makasih ya”
“Iya sama-sama”
“Oh iya, nanti malam kan malam minggu, pergi yuk, kamu ga ada acara kan?”
“Ga ada soalnya pacar aku juga lagi pelantikan “
“Hah?Pacar?”
“Ya, emank kenapa? Kok kaget?”
“Kamu udah punya pacar?”
“Udah, kenapa sih kamu?”
“Udah lama pacarannya?”
“Belum sih..”
“Emank pacar kamu sekolah dimana?”
“Sma kasih”
“Ouw”
“Kenapa? Kok muka kamu jadi pucat, kamu sakit ya?”
“Ga papa, lagi gak enak badan aja”
“Oh gitu, keUKS aja yuh?”
”Ga usah,  aku ga papa kok”
“Yang bener?”
“Beneran deh”
“Oh ya udah”
            Semenjak itu, Tri jadi jauh sama aku, tetapi, dia makin akrab dengan Silvi. Dan yang lebih anehnya lagi adalah keakraban mereka itu bukan seperti teman tapi lebih tepat mereka itu seperti pacaran. Bahkah aku pernah memergoki mereka berpegangan tangan. Aku sengaja memilih untuk diam karena aku takut kalau Azki tau, dia akan nangis karena sakit hati. Tapi, ternyata diamku sia-sia karena Azki pun tau yang sebenarnya dan benar apa yang sudah aku duga bahwa dia akan nangis karena merasakan sakit. Aku bingung sama sikap mereka berdua, pertama dari Silvi. Sebenarnya tujuan dia deket sama Tri itu apa? Apa mereka jadian? Kalau toh mereka jadian kenapa juga Silvi gak ngomong sama aku dan kawan-kawan. Terus juga apa maksud dia sekongkol dengan aku dan yang lain untuk mencomblangkan Azki dan Tri kalu kenyataannya dia juga suka sama Tri. Kedua Tri, kenapa dia udah tau kalu Azki itu suka sama dia malah dia kaya gitu. Padahal Tri sempet kuanggap ngasih sinyal buat Azki tetapi kenapa dia jadi kaya gini.
“Azki, udah jangan nangis terus” Caca mencoba menenangkan Azki yang sedari tadi nangis.
“Aku bingung sama Silvi, aku sedih. Kenapa dia tega gitu sama aku. Aku salah apa? Terus kenapa juga dia ga cerita sama aku”
Dalam keadaan seperti itu, Silvi datang dengan wajah ceria tanpa merasa salah sedikitpun.
“Halo temen-temen, eh Azki, kok nangis? Kenapa? Ada masalah ya?
“Ada, masalah banget?” Caca menjawab dengan ketus
“Biasa aja donk Ca, aku kan cuma Tanya aja”
“Setiap hari aku mungkin bisa biasa tapi kali ini aku lagi gak biasa”
“Kok jadi kaya gitu sih? Kok muka kalian jadi sinis gitu sama aku?”
“Jelas kita sinis sama kamu. Itu karena kamu penghianat” Azki berhenti menangis dan langsung berbicara.
“Penghianat gimana maksudnya? Aku gak ngerti”
“Masih pura-pura bego ya kamu? Kamu kan tau kalo aku suka sama Tri tapi kenapa kamu akrab sama dia gak lazim banget. Akrab kaya orang pacaran. Kalian pacaran kan?”
“Gak, sumpah deh aku gak bohong. Aku sama Tri cuma temen biasa.”
“Halah penipu, dasar penghianat”
“Azki, aku sama Tri deket karena….” Belum selesai Silvi bicara, Azki langsung memotong pembicaraan Silvi.
“Halah udah, sekali penghianat tetep penghianat”
“Azki…”
“Udah lah aku ga mau punya temen kaya kamu”
            Sejak itu, Azki dan Silvi jadi bermusuhan. Aku gak suka liat kondisi kaya gini, walaupun sekarang aku udah jauh sama Tri, tapi aku memberanikan diri buat ngomong sama Tri biar masalahnya cepet selesai.
“Tri, pulang sekolah ada kegiatan gak?”
“Sebenernya sih aku mau ada tanding futsal tapi sore kok. Emank kenapa Li?”
“Ada yang mau aku omongin, penting”
“Ok, bisa”
Sepulang sekolah
“Li, katanya mau ngomong”
“Ya, aku mau tanya , kamu jadian ya sama Silvi?”
“Udah aku tebak, pasti kamu mau nanyain hal ini sama aku.”
“Loh kok gitu”
“Iya, aku sengaja kaya gini soalnya, jujur aja aku frustasi karena cinta aku bertepuk sebelah tangan”
“Ok, aku tau perasaan orang frustasi kaya apa tapi gak harus teman-teman aku donk Tri, mereka gak salah. Karena kamu, mereka itu jadi berantem kaya gini”
“Aku kaya gini juga karena gengnya kamu”
“Maksud kamu?”
Tri memegang kepalaku dengan lembut. “Li, aku kaya gini karena aku sayang sama kamu. Aku frustasi denger kamu udah punya cowo”
“Tapi Tri…”
“Iya aku ngerti kamu gak bakal nerima aku tapi seengganya kamu tau perasaan aku yang sebenarnya dan maaf karena aku, teman-teman kamu jadi berantem”
“Kalau kamu memang bener-bener sayang sama aku, tolong bilang sama Azki bahwa kamu nglakuin ini semua karena kamu ingin menguji seberapa besar cinta dia ke kamu.”
“Terus maksud kamu, aku di suruh pura-pura sayang sama Azki dan macarin dia gitu?”
“iya”
“kamu tega banget ya Li, aku gak nyangka”
“Bukan gitu Tri, dengerin dulu. Aku nyuruh kamu kaya gini biar mereka ga rebut lagi. Pliss “
“Ok, aku akan turutin permintaan kamu”
“Beneran? Makasih ya”
“ya”
……….
“Temen-temen semua, aku minta maaf atas kesalahanku sama kalian. Azki, Silvi, aku minta maaf udah buat kalian berantem. Azki, Jujur aku nglakuin ini karena aku pengin tau seberapa besar rasa cinta kamu sama aku. Aku cinta sama kamu ki. Aku pengin ngungkapin tapi ga berani, mungkin ini saat yang tepat untuk aku mengungkapkan yang sebenarnya. Ki, kamu mau ga jadi pacar aku?”
Kegaduhan di kelas terjadi Karena teman-teman berteriak agar Azki mau menerima cintanya Tri..
“Iya Tri, aku juga cinta sama kamu. Aku mau jadi pacar kamu.”
Semua teman bertepuk tangan dengan ramainya dan kami saling berpelukkan kaya teletubis. Dalam keramaian seperti ini, Tri bebisik kepadaku.
“Semua karena aku sayang kamu Li”
The end…..
             



Tidak ada komentar:

Posting Komentar